Teladan Kepemimpinan Idham Chalid: Kontras dengan Wakil Rakyat yang Sibuk Mengejar Fasilitas

Admin
30 Agu 2025 07:46
Nasional 0 262
2 menit membaca

ANGKARANEWS ID– Fenomena sebagian oknum anggota dewan yang sibuk menuntut fasilitas dan tunjangan mewah dinilai semakin ironis di tengah kondisi rakyat yang masih berjuang menghadapi kesusahan finansial.

Perilaku ini bahkan telah memantik aksi protes massa yang menilai wakil rakyat tersebut lebih mirip sebagai penikmat kekuasaan daripada penyambung lidah rakyat.

Dalam situasi seperti ini, sosok almarhum KH Idham Chalid kembali diingat sebagai contoh teladan kepemimpinan yang sederhana dan berintegritas.

Idham, yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI periode 1971–1977 dan merupakan tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU), menjalani hidupnya jauh dari hiruk-pikuk fasilitas duniawi.

Padahal, karir politiknya sangat gemilang. Ia pernah menduduki jabatan strategis seperti Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesejahteraan Rakyat, hingga Ketua MPR. Di organisasi Nahdlatul Ulama, ia tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah terlama, memimpin selama 28 tahun (1956–1984).

Meski memiliki kuasa dan akses yang sangat luas, Idham Chalid dan keluarganya memilih untuk hidup bersahaja. Ia dikenal sering menggunakan angkutan umum seperti metromini, layaknya rakyat biasa. Anak-anaknya pun enggan memanfaatkan nama besar sang ayah untuk masuk ke dunia politik dan lebih memilih berwirausaha.

Bahkan setelah pensiun dari jabatan negara, Idham menolak semua tawaran jabatan komisaris dan bisnis sampingan. Ia memilih kembali ke fitrahnya sebagai seorang ulama dengan mengajar santri, memimpin pesantren, dan membina rumah yatim di Cisarua, Bogor.

“Bangsa kita butuh sosok seperti Idham Chalid. Seorang pejabat setingkat Ketua DPR RI dan wakil perdana menteri, ia menolak fasilitas mewah dan bahkan di akhir masa jabatannya lebih memilih menjadi guru,” ujar seorang pengamat. Sabtu (30/8/25).

Pewarisnya menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah pejabat yang meneladani sikap Idham, bukan mereka yang berlomba memperkaya diri atau menjadi wakil korporat, bukan wakil rakyat.

Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010 dalam usia 88 tahun. Meski wajahnya telah diabadikan dalam pecahan uang Rp5.000, warisan sejatinya bukanlah sekadar potret di lembar uang. Teladan hidupnya mengajarkan bahwa kekuasaan tak ada artinya bila hanya dijadikan jalan untuk menumpuk fasilitas.

“Kekuasaan sejati adalah kembali melayani, bukan diperkaya fasilitas negeri,” pungkasnya. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *