Petani Protes: Perbaiki Bendungan Cicaung Dulu, Baru Saluran Irigasi!

Admin
2 Jul 2025 11:40
News 0 278
2 menit membaca

Angkaranews.id– Pemerintah Kecamatan Nanggung mempertanyakan efektivitas rekonstruksi saluran irigasi Cicaung yang dilakukan oleh UPT Infrastruktur Irigasi Jasinga.

Proyek senilai Rp45 juta itu dinilai sia-sia karena bendungan penghasil airnya sudah lama jebol dan tidak diperbaiki terlebih dahulu.

Saluran irigasi tersebut, yang terletak di Kampung Pasirgintung RT 01 RW 04, Desa Batutulis, Nanggung, Kabupaten Bogor, seharusnya mengalirkan air ke persawahan Blok Si Domba di Desa Kalong 2, Kecamatan Leuwisadeng. Namun, sejak bendungan Cicaung rusak bertahun-tahun lalu, saluran sepanjang 1,5 kilometer itu mengering dan mengalami pendangkalan.

Engkus Kusumah, Staf Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Kecamatan Nanggung, menegaskan bahwa UPT Jasinga seharusnya memprioritaskan perbaikan bendungan sebelum memperbaiki saluran irigasi.

“Pedangkalan saluran terjadi karena bendungan Cicaung sudah lama jebol dan tidak berfungsi. Kalau hanya salurannya yang diperbaiki, air tetap tidak akan mengalir,” ujar Engkus, Rabu (2/7/2025).

Ia menambahkan, sebagai warga Pasirgintung, dirinya paham betul kondisi bendungan yang rusak sejak lama. “Harusnya bendungan dibangun dulu, baru salurannya diperbaiki,” tegasnya.

Sementara itu, Kasubag UPT Infrastruktur Irigasi Jasinga enggan menjelaskan secara rinci. “Nuhun infonya, izin cek dulu ke Kecamatan Leuwisadeng karena wilayahnya masuk UPT Leuwiliang,” jawabnya singkat.

Yayat Supriatna, Sekretaris Desa Kalong 2, mengakui saluran irigasi dari Kali Cicaung sudah tidak berfungsi sejak awal 2000-an.

“Penyebabnya penyempitan saluran akibat banyaknya bangunan permanen di sekitarnya,” jelasnya.

Uding, salah satu petani setempat, menyayangkan proyek perbaikan saluran yang dianggap tidak tepat sasaran.

“Dulu saluran selebar 1,5 meter, sekarang cuma setengah meter. Bendungannya jebol, mau diapakan salurannya? Ini jelas mubazir,” protesnya.

Pembangunan saluran irigasi Cicaung yang menghabiskan anggaran Rp45 juta kini jadi sorotan. Warga menuntut pemerintah segera membenahi bendungan terlebih dahulu agar irigasi bisa berfungsi maksimal.

“Tanpa air, sawah kami tetap kering. Jangan hanya salurannya yang dibaguskan, tapi sumber airnya dibiarkan rusak,” pungkas Uding.

(R-MAN)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *