Tuntutan Pencairan Dana Hibah Rp10 Triliun Picu Ketegangan di Kantor BSI Jakarta

Admin
9 Des 2025 13:08
News 0 232
2 menit membaca

JAKARTA, ANGKARANEWS.ID – Kantor pusat Bank Syariah Indonesia (BSI) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, menjadi lokasi unjuk rasa pada hari ini. Aksi tersebut diwarnai oleh sejumlah massa yang mengenakan pakaian serba merah putih. Selasa (9/12/25).

Para pengunjuk rasa menuntut pencairan segera dana hibah senilai Rp10 triliun yang mereka klaim diperuntukkan bagi kepentingan pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Mereka mendesak agar dana tersebut dialokasikan untuk: fee pemilik dana/sistem/aset global, hibah kepada Pemerintah Republik Indonesia, hibah kepada BSI sendiri, serta investasi langsung kepada penerima manfaat, yaitu masyarakat.

“Sebab, dana hibah yang digelontorkan Pemerintah kepada BSI adalah dana investasi yang seharusnya diberikan ke penerima manfaat, yaitu masyarakat seluruh Indonesia. Kami adalah penerima manfaat yang seharusnya menerima dana tersebut, bukan dijadikan modal BSI untuk kredit,” ujar salah seorang perwakilan massa.

Mereka menyatakan kekhawatiran dana tersebut justru akan dimanfaatkan bank sebagai modal kredit. “Kami tidak akan pulang sampai dana hibah tersebut cair,” tegasnya. Aksi diiringi nyanyian lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penekanan tuntutan.

Menanggapi tuntutan tersebut, perwakilan BSI yang menemui massa membantah klaim yang disampaikan. Pihak bank menyatakan bahwa dana yang dimaksud merupakan bagian dari program untuk membantu modal masyarakat melalui mekanisme kredit yang sesuai prosedur di cabang-cabang bank penerima.

“Masalah pencairan dana itu harus melalui kredit di bank-bank yang mendapat dana hibah dan melalui prosedur yang semestinya. Karena dana tersebut untuk membantu modal masyarakat,” jelas perwakilan BSI.

Lebih lanjut, perwakilan BSI menyebut tuntutan massa sebagai tidak benar atau “hoaks”. Pernyataan ini sempat memicu ketegangan dan emosi, di mana sebagian massa disebutkan mencoba menerobos masuk ke halaman gedung.

Aksi ini menyoroti adanya kesenjangan informasi dan harapan yang berbeda antara sebagian masyarakat dengan institusi perbankan mengenai alur dan tujuan penyaluran dana.

(Ivick Suryasa)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *