Warga Tapsel Tolak PT PLS Beroperasi Kembali, GEMMA PETA INDONESIA Serukan Presiden Prabowo Dukung Rakyat!

Admin
10 Agu 2025 16:43
Daerah 0 329
2 menit membaca

Angkaranews.id– Ratusan warga dari Desa Gunung Baringin dan Mosa Palang, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, menggelar aksi unjuk rasa damai pada Jumat (8/8/2025).

Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap rencana beroperasinya kembali PT Penai Lika Sejahtera (PLS) di wilayah mereka.

Aksi yang dipusatkan di Mosa Palang ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda, ibu-ibu, hingga puluhan anak sekolah dasar.

Mereka membawa spanduk dan poster yang menyerukan penghentian aktivitas PT PLS serta meminta perhatian langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, dan Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu.

“Kami khawatir dengan masa depan anak-anak kami. Jika kebun orang tua mereka diambil, dari mana biaya sekolah mereka nanti?” ujar salah seorang peserta aksi.

Gerakan Mahasiswa dan Masyarakat Pembela Tanah Air Indonesia (GEMMA PETA INDONESIA) turut mendukung aksi ini. Ketua Umum organisasi, Ronald Harahap (Baron Harahap), menegaskan bahwa penolakan warga memiliki dasar kuat, baik secara hukum maupun fakta lapangan.

Baron mengungkapkan, PT PLS sebelumnya pernah menjadi sorotan karena melakukan penanaman sawit di kawasan hutan seluas 80 hektare di Register 6, berdasarkan temuan Dinas Kehutanan Sumut pada 2022.

“Temuan ini diumumkan langsung oleh Kepala Dinas Kehutanan Sumut, Herianto, dan dimuat di media nasional pada 5 April 2022. Fakta ini semakin memperkuat alasan warga menolak PT PLS,” tegas Baron.

Ia juga menegaskan bahwa perjuangan masyarakat Gunung Baringin adalah upaya menegakkan amanat konstitusi, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945, yang menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat.

“Kami akan bawa suara rakyat ini hingga ke meja Presiden. Kami percaya Pak Prabowo akan berpihak pada rakyat. Jika kepala daerah dan wakil rakyat tidak mendengarkan, masyarakat akan mengingat sikap mereka,” ujarnya.

Penolakan terhadap PT PLS tidak hanya terkait persoalan lahan, tetapi juga menjadi simbol perlawanan warga dalam menjaga kelestarian hutan, keberlangsungan hidup, dan masa depan generasi penerus.

Warga berharap hutan tidak hanya dilihat sebagai sumber ekonomi, melainkan juga sebagai warisan berharga bagi anak cucu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari PT PLS maupun pemerintah daerah. GEMMA PETA INDONESIA dan masyarakat berkomitmen untuk terus menyuarakan aspirasi secara damai dan bermartabat, demi memastikan hak-hak mereka dihormati dan dilindungi.

(S.HRP)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *