Kuliah Umum Berubah Jadi Mimbar Kritik: MS Kaban Sebut Jawa Barat “Disaster” Akibat Tata Kelola Gagal

Admin
29 Jan 2026 17:13
Pendidikan 0 36
2 menit membaca

BANDUNG, ANGKARANEWS.ID – Kuliah umum di Universitas Sangga Buuna (USB) Bandung, Kamis (29/1/2025), berubah menjadi panggung peringatan keras atas kerusakan lingkungan dan tata kelola negara. Dr. MS Kaban secara terbuka menyatakan Jawa Barat berada dalam kondisi “disaster” atau bencana akibat kebijakan negara yang dinilai merusak alam.

Acara yang dihadiri ratusan mahasiswa dan menghadirkan tokoh nasional seperti Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Dr. Refly Harun, dan Rocky Gerung ini menyoroti krisis ekologi dan demokrasi.

Dalam paparannya, MS Kaban menegaskan Jawa Barat sudah memasuki fase “climate disaster” atau bencana iklim akibat eksploitasi alam brutal. Ia mengkritik keras narasi “Indonesia Emas 2045” yang digaungkan pemerintah.

“Alam Jawa Barat itu disaster. Jangan lagi bicara optimisme kosong. Yang akan menanggung semua ini adalah generasi muda,” tegas Kaban.

Ia memperingatkan, jargon “Indonesia Emas” berpotensi besar berubah menjadi “Indonesia Cemas” karena kerusakan lingkungan diwariskan tanpa tanggung jawab.

Kaban membeberkan data penyusutan kawasan hutan nasional yang mencurigakan dalam satu dekade terakhir, yang mencapai puluhan juta hektare. “Pertanyaannya sederhana: 27 juta hektare itu dipakai untuk apa? Apakah rakyat pernah diberi tahu?” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya tambang ilegal, khususnya emas, yang dibiarkan beroperasi tanpa penindakan tegas. Kaban menyebut kebijakan pencabutan izin 28 perusahaan di Sumatra yang tetap dibiarkan beroperasi sebagai bentuk “penglegalan kejahatan”.

Tak hanya isu lingkungan, Kaban melontarkan kritik pedas terhadap kondisi demokrasi Indonesia yang dinilainya telah dibajak elite kekuasaan.

“Demokrasi hari ini hanya milik kaum elit. Yang menderita kaum alit. Rakyat kecil hanya jadi korban kebijakan,” ucapnya.

Ia juga mempertanyakan arah kepemimpinan nasional dan praktik politik dinasti yang dianggap menghilangkan harapan regenerasi kepemimpinan yang sehat.

Menutup pidatonya, Kaban mengajak mahasiswa untuk tidak tunduk pada narasi pembangunan yang menyesatkan. Ia menyerukan perlawanan intelektual dan moral terhadap kebijakan yang merusak alam dan masa depan bangsa.

“Kita hidup di era bencana karena kesalahan manusia sendiri. Kalau dunia akan hancur, tanam benih. Tanam harapan. Tanam perlawanan terhadap kebijakan yang membangun petaka,” pungkasnya.

Kuliah umum ini menegaskan peran kampus sebagai ruang kritik, sekaligus menjadi alarm bahwa krisis lingkungan dan demokrasi bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan yang mendesak untuk diatasi.***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *