
BOGOR, ANGKARANEWS.ID – Pihak keamanan PT. Aneka Tambang (Antam) Tbk UBPE Pongkor tengah menjadi sorotan tajam setelah muncul dugaan praktik jual beli waktu dan jalur masuk ke lubang tambang milik BUMN tersebut. Praktik ilegal ini diduga melibatkan aparat keamanan internal perusahaan yang bersekongkol dengan para penambang emas tanpa izin (PETI).
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber yang enggan disebutkan identitasnya, untuk bisa masuk ke area lubang perusahaan, para PETI harus melakukan “komit” atau setoran kepada petugas keamanan. Besaran nominal yang disebutkan bervariasi, mulai dari Rp300 juta hingga Rp450 juta per shift.
“Kami masuk ke lubang perusahaan lewat depan akses level 600. Kami diantar oleh petugas menggunakan mobil ke lokasi. Setelah waktu yang ditentukan selesai, kami dijemput kembali dengan mobil yang sama, sekaligus membawa barang (berupa batuan yang diduga mengandung emas) hasil dari komit tersebut,” ujar sumber yang meminta inisialnya dirahasiakan, Sabtu (24/4/26).

Tidak hanya akses dan pengawalan, sumber tersebut juga mengindikasikan bahwa fasilitas operasional perusahaan digunakan untuk melancarkan aksi ilegal ini. Mobil dinas diduga dipakai untuk mengangkut para penambang ilegal dan hasil tambang mereka keluar dari area produksi dengan relatif aman.
Menanggapi temuan ini, Kepala Bidang Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Amdal Lembaga Elang Tiga Hambalang, Ade Yusriadi, mengecam keras dugaan persekongkolan tersebut. Ia mendesak manajemen Antam Pongkor untuk tidak tinggal diam.
“Saya mengecam keras oknum keamanan Antam yang telah bersekongkol dengan para penambang emas tanpa izin. Saya mendesak pihak manajemen PT Antam Pongkor untuk menindak tegas para oknum yang diduga mengkoordinir para PETI dengan menggunakan fasilitas perusahaan. Ini bukan sekadar pelanggaran prosedur, tetapi sudah masuk ranah pidana,” tegas Ade Yusriadi saat ditemui di tempat terpisah.

Sementara itu, Agustinus Toko Susetio, Java Region CSR and ER Sub Division Head PT Antam Tbk UBPE Pongkor, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, memberikan respons tegas. Ia menyatakan tidak akan memberikan toleransi terhadap siapa pun yang terbukti bersalah.
“Saya lebih senang kalau ada bukti-bukti begitu, saya sikat sekalian sesuai prosedur hukum yang berlaku. Saya tidak akan tolerir,” ujar Agustinus melalui pesan singkatnya, Jumat (24/4/26).
Hingga berita ini diturunkan, Agustinus belum menyebutkan langkah konkret yang akan diambil oleh pihak Antam. Namun, pernyataannya mengindikasikan bahwa manajemen akan segera melakukan penyelidikan internal jika bukti-bukti awal tersedia. Pihak keamanan yang disebut-sebut dalam laporan ini juga belum dapat dimintai konfirmasi lebih lanjut.
(Rahman Efendi)
Tidak ada komentar