SEGS Jelaskan Proses dan Keamanan Panas Bumi, Tanggapi Kekhawatiran Pasca Gempa

Admin
1 Okt 2025 12:54
News 0 258
3 menit membaca

ANGKARANEWS.ID– Sebagai upaya meluruskan berbagai informasi yang tidak tepat, PT. Star Energy Geothermal Salak (SEGS) menggelar kegiatan edukasi kepada Pemerintah Desa Purasari dan masyarakat yang terdampak gempa bumi beberapa waktu lalu.

Acara yang berlangsung pada Selasa (30/09/2025) ini digelar untuk menjawab kekhawatiran masyarakat yang kerap mengaitkan operasional SEGS dengan bencana alam di wilayah tersebut.

Dalam pemaparannya, perwakilan SEGS, Henri Kurniawan, menjelaskan proses pemanfaatan energi panas bumi untuk menjadi listrik. Ia menekankan bahwa sumber energi ini melimpah dan ramah lingkungan. Selain itu, ditegaskannya bahwa SEGS beroperasi dengan izin lengkap dan telah mematuhi semua regulasi pemerintah, yang dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang telah diraih.

“PT. SEGS beroperasi dengan izin lengkap. Kami juga telah meraih berbagai penghargaan dari pemerintah, yang menandakan kepatuhan kami terhadap aturan dalam hal perlindungan manusia, hewan, dan lingkungan sekitar,” ujar Henri di hadapan peserta di Kantor Induk PTPN VIII Cianten.

Forum ini menjadi ajang dialog langsung. Kepala Desa Purasari, Agus Soleh Lukman, menyampaikan sejumlah pertanyaan kritis yang beredar di masyarakat. Ia meminta penjelasan apakah kegiatan pengeboran SEGS benar-benar tidak memiliki dampak negatif.

“Ada informasi dari YouTube bahwa pengeboran bisa menimbulkan gas beracun, mengurangi debit air, merusak alam, menimbulkan gempa, mencemari air, hingga menyebabkan tanah longsor. Kami meminta jawaban yang jelas,” tanya Agus.

Kekhawatiran serupa disampaikan Tedi, seorang guru. Ia mempertanyakan kaitan operasi panas bumi dengan gempa seismik dan menekankan pentingnya keseimbangan antara hasil produksi perusahaan dan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Feri, Kepala Dusun 06 Desa Purasari, mengangkat isu teknis dengan menceritakan penjelasan dari BMKG mengenai Sesar Bayah segmen Cianten. “Apakah ada pengaruh pengeboran dengan segmen Cianten?” tanyanya.

Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Humas SEGS, Asrul Maulana, dengan tenang dan menguasai materi, menyatakan bahwa gempa yang terjadi disebabkan oleh sesar aktif, bukan oleh operasional SEGS.

“Kalau penyebab gempa karena pengeboran di SEGS, mari kita lihat ke belakang. Gempa juga terjadi bahkan ketika tidak ada aktivitas pengeboran,” tegas Asrul.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh rekan dari SEGS, Zia. Ia menjelaskan bahwa tidak ada kaitan antara gempa seismik dengan operasional panas bumi di wilayah mereka. Zia pun memberikan perbandingan dengan kasus gempa di Pembangkit Listrik Panas Bumi Pohang, Korea Selatan.

“Kejadian di Pohang terjadi karena perbedaan karakter batuan dan metode yang digunakan. Mereka tidak memiliki reservoir alami seperti di SEGS, sehingga dilakukan penyuntikan yang menyebabkan rekahan. Sementara, pengeboran kami menggunakan mata bor intan, bukan dengan cara diledakkan,” jelas Zia.

Ia menambahkan, gempa akhir-akhir ini merupakan fenomena global akibat aktivitas lempeng bumi. Secara geologis, wilayah Cianten sendiri merupakan kaldera purba yang dilintasi oleh Sesar Cianten, Bayah, dan Citarik.

Kegiatan edukasi ini diharapkan dapat membangun pemahaman yang lebih baik dan objektif di masyarakat mengenai operasional energi panas bumi serta menjawab kekhawatiran yang timbul pasca bencana gempa.

(Hendrik Hidayat)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *