Jembatan Darurat Hanyut Diterjang Banjir, Dua Desa di Aceh Utara Terisolasi Total

Admin
4 Jun 2026 19:01
Daerah 0 125
3 menit membaca

ACEH UTARA, ANGKARANEWS.ID – Hujan deras yang mengguyur kawasan Gampong Tuempoek Aceh, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara sejak sore tadi menyebabkan akses penghubung antara Gampong Tuempoek Aceh dan Gampong Plu Pakam terputus total. Jembatan darurat yang selama ini menjadi tumpuan warga hanyut terbawa arus sungai.

Plt. Geuchik Gampong Tuempoek Aceh, Zulkifli, S.Pd, mengatakan bahwa bencana ini memperparah kondisi infrastruktur yang memang sudah lama rusak.

“Jembatan yang menghubungkan dua desa ini sudah lama putus. Selama ini warga hanya bisa lewat jembatan sementara yang dibuat seadanya dari batang kelapa yang dipotong-potong. Tapi sore ini, dengan derasnya air hujan, jembatan itu ikut hanyut terbawa arus,” jelas Zulkifli saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).

Data dari pemerintah gampong mencatat ada enam unit jembatan di jalur Tuempoek Aceh menuju Plu Pakam yang kondisinya rusak parah. Ironisnya, sejak masa penjajahan Belanda hingga hampir satu abad Indonesia merdeka, akses jalan dan keenam jembatan tersebut belum pernah diaspal maupun dibangun kembali.

“Kami ini anak bangsa yang terlupakan di pedalaman Kecamatan Tanah Luas,” ujar salah seorang warga.

Karena tidak ada perbaikan dari pemerintah, masyarakat terpaksa membuat akses darurat sendiri agar tetap bisa ke kebun dan mengangkut hasil pertanian. Kini, kondisi jalur tersebut sangat berisiko. Warga harus berjalan hati-hati di atas batang kelapa yang licin dan tidak stabil. Satu langkah salah bisa mengakibatkan terjatuh ke sungai atau alur air yang dalam.

Proses pengangkutan hasil pertanian seperti sawit, padi, dan sayur-mayur pun menjadi sangat lamban.

“Kalau bawa hasil kebun harus gotong royong, pelan-pelan, dan sering berhenti istirahat. Takut tergelincir. Ini sudah jadi rutinitas kami bertahun-tahun karena belum ada perbaikan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Terputusnya akses ini membuat dua desa tersebut seolah terisolasi. Jalan darat yang ada hanya bisa dilalui jika melewati jembatan tersebut. Tidak ada jalur alternatif lain.

Warga dari Gampong Tuempoek Aceh dan Gampong Plu Pakam kini berharap besar kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk segera turun tangan.

“Kami sudah lama bersabar. Jalan ini adalah urat nadi ekonomi kami. Kalau jembatan tidak segera dibangun, hasil kebun kami busuk di jalan, anak-anak susah ke sekolah, warga sakit juga susah dibawa ke puskesmas,” kata Zulkifli.

Laporan resmi sudah disiapkan dan akan segera disampaikan ke pihak kecamatan dan dinas terkait.

Petani di kedua desa mengaku rugi besar karena hasil panen tidak bisa dijual tepat waktu. Harga di tingkat pengepul juga jatuh akibat biaya angkut yang tinggi dan risiko kerusakan barang di perjalanan.

Aktivitas sosial warga juga terganggu. Kegiatan gotong royong, takziah, dan acara adat antardesa kini terhenti karena tidak ada akses yang aman.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada petugas dari dinas terkait yang turun ke lokasi. Warga berharap respons cepat datang sebelum musim hujan semakin intensif dan menyebabkan kerusakan yang lebih luas.

(MN)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *