
BOGOR, ANGKARANEWS.ID – Mengusung tema “Arah Juang Pemuda Bogor Barat”, Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) Bogor Barat sukses menggelar diskusi publik perdananya, Sabtu (14/3/2026).
Acara yang berlangsung di Cafe Titik Seduh Hartage, Kecamatan Lewiliang, Kabupaten Bogor, ini menjadi sorotan lantaran menghadirkan sejumlah tokoh muda lintas bidang dan dihadiri puluhan pemuda dari sembilan kecamatan di Daerah Pemilihan (Dapil) V Kabupaten Bogor.
Diskusi yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah ini bertujuan untuk merumuskan peran strategis pemuda dalam mengawal percepatan pembangunan di wilayah Bogor Barat. Hadir sebagai narasumber, yaitu Ote Herdiansyah (Praktisi Hukum sekaligus Ketua DPC Peradi Kabupaten Bogor), Irpan Darajat (Aktivis Sosial), dan Haji Ade yang akrab disapa Bung Gus Dey (Pengamat Sosial Pemuda).
Jalannya diskusi dimoderatori oleh AA Permana, dengan Hamdan Yuwafi sebagai pemandu acara.
Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti berbagai persoalan krusial yang membelit wilayah Bogor Barat. Isu-isu yang mengemuka antara lain minimnya perhatian terhadap situs sejarah, infrastruktur jalan yang rusak, serta pelayanan pendidikan dan akses kesehatan yang belum optimal.
Selain itu, diskusi juga menyoroti belum tuntasnya pembangunan Hunian Tetap (Huntap) pasca bencana tahun 2020, minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) yang memicu kerawanan, hingga irigasi pertanian yang tidak memadai sehingga menghambat program swasembada pangan. Isu sejarah yang tergerus dan persoalan agraria di Bogor Barat pun turut menjadi perhatian serius.
Forum diskusi ini juga dihadiri oleh sejumlah jurnalis dari berbagai media lintas wilayah. Kehadiran mereka diharapkan mampu menyatukan persepsi dalam menyikapi kompleksitas persoalan di Bogor Barat sekaligus menjadi mitra kritis dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
Para narasumber kompak menegaskan bahwa pemuda tidak boleh menjadi penonton di daerahnya sendiri. Pemuda harus hadir sebagai garda terdepan dalam mengawal kebijakan publik, menjadi penggerak perubahan, sekaligus barometer kritis bagi pemerintah.
“Rakyat, khususnya pemuda, bukanlah pengemis dalam menuntut hak. Kita adalah pemilik sah atas pembangunan yang dibiayai dari pajak yang kita bayar. Sudah seharusnya kita kritis dan hadir untuk memastikan pembangunan itu berpihak kepada rakyat,” tegas para narasumber yang disambut sorak sorai antusias para peserta.
Diskusi publik perdana ini pun mendapat sorotan positif dari masyarakat. Meskipun baru berusia satu bulan satu hari sejak didirikan pada 12 Februari 2026, FKBP Bogor Barat dinilai mampu menunjukkan eksistensinya sebagai wadah aspirasi dan penyalur suara publik, khususnya bagi warga Bogor Barat.
Acara yang berlangsung hangat tersebut kemudian ditutup dengan tasyakuran sederhana sebagai bentuk syukur atas lancarnya jalannya diskusi. Ke depan, FKBP diharapkan mampu menjaga konsistensi peran kritis dan inspiratifnya dalam pembangunan Kabupaten Bogor.***
Tidak ada komentar