Normalisasi Saluran Tersier di Ujoeng Baroeh Berghang, Harapan Baru Petani Pasca Banjir 2025

Admin
16 Mei 2026 10:48
Daerah 0 63
2 menit membaca

ACEH UTARA, ANGKARANEWS.ID – Kepedulian terhadap warganya pasca bencana terus ditunjukkan oleh Keuchik (Kepala Desa) Ujoeng Baroeh Berghang, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Ibna M. Amin memimpin langsung aksi pembersihan saluran tersier yang masih tergenang lumpur akibat banjir hidrometeorologi yang melanda desanya tahun lalu.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat (15/5/2026). Tidak kurang dari 1.500 meter saluran tersier yang membentang di sepanjang jalan dan di tengah persawahan berhasil dibersihkan menggunakan alat ekskavator.

“Pembersihan ini dilakukan dengan alat berat. Seluruh saluran yang tertimbun lumpur pasca banjir tahun lalu kini mulai dinormalisasi,” ujar Ibna M. Amin kepada awak media.

Ibna menjelaskan, dana yang digunakan untuk pembersihan saluran tersier berasal dari Anggaran Dana Desa (DD Pusat) yang tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) dengan kegiatan normalisasi atau padat karya.

Dampak banjir tahun 2025 lalu sangat besar. Ratusan hektar tanah sawah, saluran sekunder, dan tersier di Ujoeng Baroeh Berghang tertimbun lumpur. Seluruh bibit padi milik masyarakat tidak dapat digunakan lagi. Selain itu, fasilitas rumah warga juga ikut terendam lumpur dan air.

“Seluruh desa kami terendam air dan lumpur setinggi 1,5 meter dalam waktu cukup lama. Akibatnya, ratusan hektar padi masyarakat gagal panen,” ungkapnya.

Ibna memperkirakan kerugian masyarakat akibat banjir tahun 2025 lalu mencapai puluhan miliar rupiah. Baru pada tahun 2026 ini, seluruh saluran di desa tersebut mulai dibersihkan, namun belum seratus persen maksimal.

“Keterbatasan anggaran desa tahun ini membuat kami serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Hampir semua desa di Aceh Utara terkena imbas banjir,” keluhnya.

Ia juga menyayangkan karena pemerintah pusat dan daerah belum sepenuhnya membantu pembersihan irigasi, sungai, serta saluran sekunder dan tersier. Selama ini, desa hanya mengandalkan sistem swakelola masyarakat dan patungan dana untuk kebutuhan pembersihan saluran.

Padahal, saluran tersier memiliki fungsi vital untuk mengalirkan air dari saluran sekunder ke petak-petak tanah sawah. Dengan saluran yang bersih, masyarakat akan lebih efisien dalam mengolah tanah dan pertumbuhan padi menjadi lebih baik.

Sementara itu, Camat Tanah Luas, Bakiar, S.E., memberikan apresiasi kepada 37 desa di wilayahnya yang telah melakukan normalisasi saluran sekunder. Mereka melakukan patungan anggaran di setiap desa untuk kelancaran distribusi air ke seluruh saluran tersier.

“Semoga pada bulan ini, distribusi air dari Bendungan Krueng Pasei untuk sayap kanan dan kiri bisa berjalan lancar. Dengan demikian, masyarakat bisa serentak turun ke sawah untuk bercocok tanam padi,” tutup Camat Tanah Luas.***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *