Disegel PLN karena Tunggakan, Warga Bogor Barat Kini Melintas di Jalur Maut

Admin
16 Mei 2026 21:16
Daerah 0 39
2 menit membaca

BOGOR, ANGKARANEWS.ID – Ratusan Penerangan Jalan Umum (PJU) di ruas jalan nasional Kabupaten Bogor bagian barat, yang membentang dari Kecamatan Leuwiliang, Leuwisadeng, Cigudeg, Jasinga, hingga Tenjo, kini hanya berdiri sebagai tiang besi tak berfungsi. Lampu-lampu tersebut disegel oleh PLN akibat tunggakan pembayaran listrik. Akibatnya, jalur vital yang setiap hari dilalui puluhan ribu orang berubah menjadi lorong gelap yang membahayakan.

Jalur ini merupakan satu-satunya akses warga menuju rumah sakit, pasar, sekolah, kampus, hingga kantor pemerintahan. Minimnya penerangan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara motor. Kondisi gelap gulita juga membuka peluang bagi tindak kriminalitas pada malam hari.

Ketua DPK KNPI Jasinga, Ama Dery, menegaskan bahwa jalur Jasinga–Cigelung sudah lama gelap gulita. Ia mendesak pemerintah segera bertanggung jawab sebelum muncul korban jiwa.

“Jangan sampai ada korban dulu baru bertindak,” ujarnya.

Pernyataan ini mencerminkan keresahan masyarakat yang merasa dianaktirikan dibandingkan wilayah perkotaan yang terang benderang.

Ama Dery menyebutkan beberapa lokasi yang paling mengkhawatirkan, antara lain:

· Lebak Panjang
· Simpang Curug
· Desa Wirajaya

“Pola penerangan tidak merata. Ada titik terang, lalu kembali gelap gulita. Bahkan ada lampu yang menyala, tetapi cahayanya sangat redup,” tegasnya.

Seorang staf UPT Dishub Wilayah V Jasinga, Jumat (15/5/2026), menyebutkan bahwa masalah ini terjadi karena pemerintah pusat belum membayar tagihan PLN. Ia menambahkan, sejak awal pembangunan, PJU di wilayah tersebut memang belum pernah menyala.

Rapat di Kementerian Perhubungan baru-baru ini membahas pemindahan aset dari BPTJ ke BPTD Wilayah I. Namun, anggaran untuk pemeliharaan dan pembayaran listrik hingga saat ini belum tersedia.

Fenomena “patung besi” di Bogor Barat bukan sekadar soal lampu jalan yang mati. Ini adalah simbol absennya negara dalam menjamin keselamatan warganya. Jalan nasional seharusnya menjadi urat nadi pembangunan, bukan lorong gelap yang menebar ancaman.***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *